Sunday, February 17, 2013

pengertian unicef


Pengertian Dan Tujuan Unicef

Pengertian dan Tujuan Seminar Teknologi Pendidikan
pengertian seminar (pendidikan) sebagai mata kuliah. Di dalam Webster’s Third New International Dictionary
(dalam Mohamad Nur, 1983:7-8). Di muat beberapa arti kata seminar. Salah satu diantaranya berbunyi : a group
of advanced student studying a sub subject under a professor, each doing some discussions. Jika diterjemahkan
secara bebas adalah sebagai berikut : sekelompok mahasiswa tingkat lanjut yang mempelajari suatu subyek di
bawah bimbingan guru besar, setiap mahasiswa melakukan peneli ... tujuan amata kuliah Seminar Bidang
Teknologi Pendidikan telah dipilihkan sebuah laporan seminar sebagai bahan diskusi. Dari laporan seminar ini
diharapkan akan dapat dipetik beberapa pengalaman yang berharga.Seminar tersebut menurut Muhamad Nur
(1983:1) berjudul ”Asean Expert Seminar on the Development Of Science/Mathematics Conceps In Children”
yang berlangsung di Bangkok pada tahun 1972 dan diadakan oleh UNESCO dan UNICEF. Seperti yang
tercantum pada Final Report, tujuan seminar i ... UNICEF. Seperti yang tercantum pada Final Report, tujuan
seminar itu adalah seperti yang telah diterjemahkan berikut ini. Saling memberikan andil pengetahuan (to share
knowledge) yang didapat dari usaha yang telah dilakukan di dalam bidang pengembangan konsep sains dan
matematika didalam diri anak (3-11/12 tahun), dan mengkaitkannya dengan pengembangan kurikulum dains dan
matematika. Melalui pertukaran pengalaman (exchange of experience). Mengidentifikasi masalah-masalah
belajar yang dijump ...
Berbeda dengan mata kuliah Seminar Bidang Teknologi Pendidikan maka seminar itu sendiri sesungguhnya
bukan lagi merupakan hal yang baru. Kita telah sering mendengar dan bahkan telah sering pula mengikuti
berbagai macam seminar. Seminar Bidang Teknologi Pendidikan tak lain artinya adalah seminar yang
bertemakan masalah-masalah aplikasi dalam pendidikan.Sementara itu yang masih perlu diperjelas adalah
pengertian seminar (pendidikan) sebagai mata kuliah. Di dalam Websterrsquos Third New International
Dictionary (dalam Mohamad Nur, 19837-8). Di muat beberapa arti kata seminar. Salah satu diantaranya
berbunyi a group of advanced student studying a sub subject under a professor, each doing some discussions.
Jika diterjemahkan secara bebas adalah sebagai berikut sekelompok mahasiswa tingkat lanjut yang mempelajari
suatu subyek di bawah bimbingan guru besar, setiap mahasiswa melakukan penelitian original, dan mahasiswa
itu seluruhnya saling bertukar hasil penelitiannya melalui kuliah informal, laporan, dan diskusi. Dan menurut
W.J.S. Poerwadarminta (1978908), kata seminar adalah pertemuan untuk menyelidiki dan membahas suatu di
bawah pimpinan guru besar atau orang ahli.Jadi jelaslah bahwa disini kata seminar diartikan dalam kaitannya
dengan proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Penulis sependapat bila arti seminar di atas diberlakukan
utuk mengartikan mata kuliah seminar, sehingga pengertian mata kuliah Seminar Bidang Teknologi Pendidikan
tinggal menambahkan kata dalam bidang teknologi pendidikan ...
Read Article



Anggota dewan beragam negara tergugah setelah mengunjungi proyek UNICEF di Indonesia
Description: http://www.unicef.org/indonesia/id/IPU1.jpg
© UNICEF video
Para wakil Rakyat dari International Parliamentary Union tengah mengunjungi Lembaga Perlindungan Anak di Lombok.
Lombok, NTB, 15 may 2007 – Lebih dari selusin anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) beragam negara yang tengah turut serta dalam konperensi tingkat tinggi di Bali IPU (Inter-Parliamentary Union) meluangkan waktu untuk mengunjungi beberapa proyek yang dibantu UNICEF di Lombok.
Tempat pertama yang dikunjungi adalah sebuah posyandu di Lombok Barat dimana para ibu-ibu memperoleh informasi tentang kesehatan dan gizi, serta dimana anak-anak balita mereka memperoleh pemeriksaan kesehatan rutin.
 “Kita harus memastikan bahwa setiap anak dapat memperoleh pelayanan kesehatan gratis karena sudah sepatutnya mereka memulai hidup dengan sehat,” ujar anggota DPR Australia, Kay Hull.
Melindungi generasi penerus
Setelah posyandu, para anggota dewan juga mengunjungi sebuah polindes dimana bukan saja mereka bertemu dengan ibu-ibu hamil yang tengah memperoleh pelayanan kesehatan, namun mereka juga bertemu langsung dengan seorang ibu yang baru saja melahirkan dalam satu jam terakhir.
 “Saya ingin memastikan bahwa semua hak anak perempuan yang baru lahir ini terpenuhi, dan ini termasuk pelayanan kesehatan bagi semua anak-anak,” ujar Tuti Loekman, anggota DPR Indonesia. “Salah satu yang perlu diperhatikan khusus adalah sunat bagi anak perempuan, yang masih dilaksanakan dibeberapa tempat di negeri ini. Praktek ini melanggar HAM dan orang tua perlu sadar akan hal tersebut.”
Description: http://www.unicef.org/indonesia/id/IPU2.jpg
© UNICEF video
Anggota DPR Australia, Kay Hull, menggendong bayi di sebuah posyandu di Lombok.
Para anggota dewan juga menyadari pentingnya perlindungan khusus bagi anak-anak dan mereka turut pula mengunjungi Lembaga Perlindungan Anak di Lombok dan berdiskusi langsung dengan anak-anak yang aktif terlibat dalam lembaga tersebut.

Dukungan bagi korban kekerasan
 “Fasilitas ini sangat berguna,” ujar anggota dewan Jepang, Miho Takai. “Sangatlah menyenangkan untuk melihat anak-anak menyumbangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam lembaga ini agar mereka dapat mengekspresikan diri mereka sendiri serta belajar mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Saya akan membawa ide ini untuk dikembangkan di Jepang.”
LPA juga memberikan dukungan bagi korban kekerasan. Sebagai contoh, para anggota kini tengah menangani proses tuntutan hukum kepada seorang guru yang dilaporkan telah memperkosa anak perempuan berumur delapan tahun. Para anggota dewan juga mengunjungi Polda NTB di Lombok dimana para korban penganiayaan, kekerasan dan eksploitasi dibantu oleh polisi-polisi yang telah secara khusus dilatih untuk menangani kasus-kasus seperti itu.
 “Kita harus mengakui bahwa kekerasan dan eksploitasi seksual adalah masalah besar,” ujar Sue Barnes, anggota DPR Kanada. “Kita juga harus mengakui bahwa masalah tersebut sering tidak dapat diatasi oleh diri sendiri dan adanya organisasi seperti UNICEF dapat membantu proses penyelesaian.”
Kelebihan sekolah yang bersahaja bagi anak
Namun, hal penting yang harus dilaksanakan agar anak-anak dapat melindungi dirinya dari penganiyayaan dan kekerasan adalah melalui pengetahuan dan pemahaman terhadap isu-isu yang ada.
Pendekatan sekolah bersahaja bagi anak yang dikembangkan oleh UNICEF diakui oleh para anggota dewan telah menghasilkan dampak positif di Indonesia.
 “Ini pendekatan yang impresif; jauh lebih baik dari pembelajaran pasif. Proses ini sangatlah interaktif dan anak-anak di sekolah ini menjadi pemeran utama dalam proses dan pembagian peran. Mereka memperoleh kesempatan untuk bertanya dan bahkan melontarkan kritik,” ujar Syada Elharmy Griess, anggota dewan Mesir.
Para anggota dewan mengatakan bahwa mereka memperoleh inspirasi dari kunjungan ke Lombok tersebut. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia telah mendapatkan wawasan lebih sedangkan yang lain mengatakan bahwa undang-undang perlindungan anak adalah hak yang sangat penting – untuk didukung dan diimplementasikan diseluruh jajaran, terutama dikalangan komunitas masyarakat sendiri.
 “Dengan menyaksikan pekerjaan UNICEF di lapangan, para anggota dewan ini dapat melihat sendiri realita permasalahan perlindungan anak yang ada,” ujar wakil direktur utama UNICEF, Toshiyuki Niwa. “Ini cara pendekatan dan pemahaman yang baik bagi masyarakat dunia secara keseluruhan.”

















Anggota dewan beragam negara tergugah setelah mengunjungi proyek UNICEF di Indonesia
Description: http://www.unicef.org/indonesia/id/IPU1.jpg
© UNICEF video
Para wakil Rakyat dari International Parliamentary Union tengah mengunjungi Lembaga Perlindungan Anak di Lombok.
Lombok, NTB, 15 may 2007 – Lebih dari selusin anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) beragam negara yang tengah turut serta dalam konperensi tingkat tinggi di Bali IPU (Inter-Parliamentary Union) meluangkan waktu untuk mengunjungi beberapa proyek yang dibantu UNICEF di Lombok.
Tempat pertama yang dikunjungi adalah sebuah posyandu di Lombok Barat dimana para ibu-ibu memperoleh informasi tentang kesehatan dan gizi, serta dimana anak-anak balita mereka memperoleh pemeriksaan kesehatan rutin.
 “Kita harus memastikan bahwa setiap anak dapat memperoleh pelayanan kesehatan gratis karena sudah sepatutnya mereka memulai hidup dengan sehat,” ujar anggota DPR Australia, Kay Hull.
Melindungi generasi penerus
Setelah posyandu, para anggota dewan juga mengunjungi sebuah polindes dimana bukan saja mereka bertemu dengan ibu-ibu hamil yang tengah memperoleh pelayanan kesehatan, namun mereka juga bertemu langsung dengan seorang ibu yang baru saja melahirkan dalam satu jam terakhir.
 “Saya ingin memastikan bahwa semua hak anak perempuan yang baru lahir ini terpenuhi, dan ini termasuk pelayanan kesehatan bagi semua anak-anak,” ujar Tuti Loekman, anggota DPR Indonesia. “Salah satu yang perlu diperhatikan khusus adalah sunat bagi anak perempuan, yang masih dilaksanakan dibeberapa tempat di negeri ini. Praktek ini melanggar HAM dan orang tua perlu sadar akan hal tersebut.”
Description: http://www.unicef.org/indonesia/id/IPU2.jpg
© UNICEF video
Anggota DPR Australia, Kay Hull, menggendong bayi di sebuah posyandu di Lombok.
Para anggota dewan juga menyadari pentingnya perlindungan khusus bagi anak-anak dan mereka turut pula mengunjungi Lembaga Perlindungan Anak di Lombok dan berdiskusi langsung dengan anak-anak yang aktif terlibat dalam lembaga tersebut.

Dukungan bagi korban kekerasan
 “Fasilitas ini sangat berguna,” ujar anggota dewan Jepang, Miho Takai. “Sangatlah menyenangkan untuk melihat anak-anak menyumbangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam lembaga ini agar mereka dapat mengekspresikan diri mereka sendiri serta belajar mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Saya akan membawa ide ini untuk dikembangkan di Jepang.”
LPA juga memberikan dukungan bagi korban kekerasan. Sebagai contoh, para anggota kini tengah menangani proses tuntutan hukum kepada seorang guru yang dilaporkan telah memperkosa anak perempuan berumur delapan tahun. Para anggota dewan juga mengunjungi Polda NTB di Lombok dimana para korban penganiayaan, kekerasan dan eksploitasi dibantu oleh polisi-polisi yang telah secara khusus dilatih untuk menangani kasus-kasus seperti itu.
 “Kita harus mengakui bahwa kekerasan dan eksploitasi seksual adalah masalah besar,” ujar Sue Barnes, anggota DPR Kanada. “Kita juga harus mengakui bahwa masalah tersebut sering tidak dapat diatasi oleh diri sendiri dan adanya organisasi seperti UNICEF dapat membantu proses penyelesaian.”
Kelebihan sekolah yang bersahaja bagi anak
Namun, hal penting yang harus dilaksanakan agar anak-anak dapat melindungi dirinya dari penganiyayaan dan kekerasan adalah melalui pengetahuan dan pemahaman terhadap isu-isu yang ada.
Pendekatan sekolah bersahaja bagi anak yang dikembangkan oleh UNICEF diakui oleh para anggota dewan telah menghasilkan dampak positif di Indonesia.
 “Ini pendekatan yang impresif; jauh lebih baik dari pembelajaran pasif. Proses ini sangatlah interaktif dan anak-anak di sekolah ini menjadi pemeran utama dalam proses dan pembagian peran. Mereka memperoleh kesempatan untuk bertanya dan bahkan melontarkan kritik,” ujar Syada Elharmy Griess, anggota dewan Mesir.
Para anggota dewan mengatakan bahwa mereka memperoleh inspirasi dari kunjungan ke Lombok tersebut. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia telah mendapatkan wawasan lebih sedangkan yang lain mengatakan bahwa undang-undang perlindungan anak adalah hak yang sangat penting – untuk didukung dan diimplementasikan diseluruh jajaran, terutama dikalangan komunitas masyarakat sendiri.
 “Dengan menyaksikan pekerjaan UNICEF di lapangan, para anggota dewan ini dapat melihat sendiri realita permasalahan perlindungan anak yang ada,” ujar wakil direktur utama UNICEF, Toshiyuki Niwa. “Ini cara pendekatan dan pemahaman yang baik bagi masyarakat dunia secara keseluruhan.”

















Sejarah Singkat UNICEF di Indonesia
Description: http://www.unicef.org/indonesia/id/history-1.jpg
© UNICEF/IDSA/history 01/archive
UNICEF membantu Indonesia pertama kali pada 1948. Saat itu terjadi situasi darurat yang memerlukan penanganan cepat akibat kekeringan hebat di Lombok. Kerjasama resmi antara UNICEF dan pemerintah Indonesia dijalin pertama kali pada 1950.
Sejak awal masa kemerdekaan, UNICEF tetap dianggap mitra Indonesia yang berkomitmen untuk memperbaiki hidup anak-anak dan wanita di seluruh nusantara. Prioritas awal UNICEF adalah memberikan pelayanan dan persediaan yang sangat diperlukan untuk memperbaiki kesehatan anak Indonesia dan keluarganya.
Pada awal 1960an, UNICEF berkembang menjadi organisasi pembangunan yang lebih terkonsentrasi pada kesejahteraan anak daripada sekedar bantuan kemanusiaan. Pada 1962, UNICEF melaksanakan program gizi di 100 desa dari delapan propinsi.
Description: http://www.unicef.org/indonesia/id/history-3.jpg
© UNICEF/IDSA/history 02/archive
Pada November 1966, Menteri Luar Negeri Adam Malik menandatangani perjanjian kerjasama UNICEF dan pemerintah Indonesia sesudah Indonesia bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Awalnya fokus kerjasama menitikbertakan kelangsungan hidup anak-anak. Baru kemudian fokus berkembang pada masalah-masalah lain yang menguntungkan kedua belah pihak.
Selama 50 tahun, UNICEF memainkan peranan penting dalam membantu pemerintah memajukan hidup anak-anak dan wanita. Sekarang UNICEF berkarya di 12 kantor wilayah untuk membantu melaksanakan program di 15 propinsi yang mencakup lebih dari  20 juta orang Indonesia.
Bersama dengan mitra-mitranya UNICEF berhasil membantu mengembangkan dan melobi adopsi Undang-undang Perlindungan Anak 2002. Undang-undang ini akan menjadi landasan  hukum bagi perlindungan hak anak.
Indonesia dan UNICEF menandatangani perjanjian kerjasama baru untuk Rencana Pembangunan Lima Tahun 2006-2010 yang terfokus pada enam program: Pendidikan, Kesehatan, Air dan Sanitasi, Memerangi HIV dan AIDs, Perlindungan Anak dan Keadaan Darurat. Kerjasama untuk tahun 2010 ditandatangi pada tanggal 12 Januari 2010.


















Penghargaan Unicef

Description: Perhatian, buka di jendela baru.Description: PDFDescription: CetakDescription: E-mail
Ribuan penulis remaja Indonesia sampaikan gagasan tentang lingkungan hidup: Dua anak Indonesia raih “Penghargaan UNICEF untuk Penulis Muda Indonesia 2008”
Jakarta.YKA.Net. Dua pelajar hari ini di hotel Gran Melia, Jakarta menerima “Penghargaan UNICEF untuk Penulis Muda Indonesia 2008”. Kedua pelajar tersebut adalah Nurul Khusnul Khotimah (15 tahun), pelajar SMP dari Nusa Tenggara Barat dan Alfinda Agyputry (16 tahun), pelajar SMA dari Jakarta.
Description: http://www.ykai.org/images/stories/menulis/cw.gif1.817 anak berusia dibawah 18 tahun dari 32 propinsi di Indonesia mengikuti lomba menulis nasional yang bertema “Anak dan lingkungan hidup”. Lomba menulis esai  ini diselenggarakan setiap tahun oleh UNICEF bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) sejak tahun 2004. Dalam esainya, para penulis muda menyuarakan gagasan, impian, kritik dan harapan mereka tentang masalah lingkungan hidup di Indonesia.
“Pandangan para penulis muda ini membantu sesama anak dan orang dewasa memahami permasalahan lingkungan dari sudut pandang anak,” ujar Dr. Gianfranco Rotigliano, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia. “Indonesia berada di kedua sisi yang menyelimuti masalah pemanasan global; yaitu sebagai penyumbang sekaligus pihak yang dirugikan.
Debat tentang sumbangan Indonesia terhadap pemanasan global sering dikaitkan dengan cepatnya laju penggundulan hutan dan maraknya kebakaran hutan, yang sering mengaburkan sisi lain dari kejadian ini; yaitu jutaan kaum miskin Indonesia yang beresiko terampas haknya atas layanan kesehatan, ketahanan pangan, dan akses terhadap air bersih..”
Kedua penerima Penghargaan ini mendapat piagam dari UNICEF dan YKAI, tabungan masing-masing sebesar Rp 5.000.000 dari Bank Niaga, LCD monitor dari LG Electronics, dan bingkisan dari TV Anak Space Toon.  Esai kedua penerima Penghargaan dan 18 esai pilihan yang ditulis oleh anak dan remaja dari berbagai propinsi di Indonesia selanjutnya akan dibukukan. 18 penulis muda ini juga akan mendapat piagam penghargaan serta hadiah dari para sponsor. Manajemen Bank Niaga, Hotel Gran Melia, LG Electronics, TV Anak Space Toon, dan TV Edukasi mendukung penganugerahan penghargaan tahunan  ini sebagai pengakuan penting terhadap aspirasi dan partisipasi anak.
Nurul Khusnul Khotimah, siswi SMPN 1 Bolo, NTB  lewat tulisannya "Mengenal, Mencintai dan Melestarikan Lingkungan Hidup” menguraikan pengamatannya terhadap lingkungan di desanya. “Tiga tahun terakhir ini para petani pada musim tanam ketiga kekurangan air. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Demikian pula pada akhir Maret 2008 yang lalu, terjadi banjir besar di desaku. Menurut nenek Aminah yang berusia lebih dari 80 tahun, ini juga tidak pernah terjadi sebelumnya. Mungkinkah ini karena banyak pohon yang ditebang?”
Sementara itu, Alfinda Agyputry, siswi SMA Dian Harapan, Jakarta  dalam tulisannya "Milikku Bukan Milikku?" mempertanyakan “Akankah menjadi penyesalan nantinya jika kita kehilangan bumi tempat kita berpijak karena sikap egois yang hanya menghargai sesuatu yang menjadi milik kita pribadi, dan tidak peduli dengan apa yang menjadi milik bersama?”
Ketua Umum YKAI, Prof. Lily I. Rilantono merasa berbesar hati bahwa keinginan, motivasi untuk berkembang, belajar dan mencapai kemajuan bagi diri sendiri maupun masyarakat ada pada para penulis remaja, yang mudah-mudahan dalam lima – sepuluh tahun kedepan dapat berperan positif dalam membangun masa depan masyarakat dan bangsa.
UNICEF berharap untuk memberikan Penghargaan ini setiap tahun sebagai upaya mendukung partisipasi anak.












































































































No comments:

Post a Comment

Post a Comment